Kamis, 09 Februari 2017

Teduh

Saat itu, saat sekolah menengah pertama aku mengenal laki-laki dari surat yang bisa di bilang salah alamat. Tio namanya, ia beda sekolah namun kami dekat. Kata orang sih bukan cuma teman pada zamannya.

Tio. Tapi aku tak merasa begitu dekat, karena Jarak Rumah kita lumayan jauh, sekolah juga, kita bertemu dalam acara, dan akan di pertemukan dalam acara pula. Ia realistis, pintar dan melakukan sesuatu yang hanya ia sukai.

Aku. Lebih suka bercanda, ngobrol meski hal- hal yang ringan namun jika itu menyenangkan membuat ku nyaman. Aku kurang begitu suka nerima telpon, kecuali dari orangtua. Kurang suka berlama – lama di telpon, pribadi ku yang tidak mau diam gak rela kalo harus tersita hanya mengobrol di handphone.

Aku lebih suka bermain, pribadiku santai, tidak terlalu menyesali yang telah terjadi, tidak juga terlalu memikirkan yang akan terjadi, bawaanku tenang namun terkendali dan teratur, tidak bebas meski sering melakukan hal-hal nakal jika menyenangkan dan tidak melanggar , nakal itu perlu menurutku, bukan nakal namun melakukan hal yang orang lain enggan namun berkesan dan terkadang konyol. Aku suka

Tio, bawaan nya selalu serius, aku bercanda ia marah. Ia terkadang kurang mau menerima keadaan atau hasil yang kurang baik. Namun ia bertanggung jawab dalam pekerjaan, dan selalu menepati janji. Sangat sering ia membandingkan, Tidak peduli perasaan lawan bicara nya. Meski begitu, aku tidak mengelak pernah menyukai nya, ntah dari akademik ataupun ketika ia olahraga.

Semua pasti merasakan, ada rasa karena ada dan selalu ada, bisa karena satu lokasi atau selalu ada menghubungi, ia bisa mengalahkan yang istimewa sekalipun.
Saat itu aku dikenalkan oleh kakak sepupuku kepada tetangga nya yang satu sekolah dan satu angkatan dengaan ku ia kelas A dan aku kelas C. Ia dia tampan menurutku. Adi namanya, ia putih, baik hati, selalu tersenyum, dan agak konyol.

Ada satu hal yang membuat aku malu saat itu, kakak sepupu ku mengirim sms padaku bahwa Adi tidak akan sekolah, ia berbicara di rumahnya saat malam Adi main ke rumahnya.
“De, bilang aja ke guru nya, dia sakit.” A Zaid
“Beneran?. Tanyaku penasaran, aku yang datang kebetulan kepagian memberi tahu teman sekelasnya bahwa Adi sakit.
Saat istirahat.
“Sal, di panggil Adi” teriak Dinda
Aku kaget bercampur malu. “ia nanti tanggung.”
“Noh dia nya di kaca sebelah kamu , udah ngetok ngetok ga denger?”. Dinda mulai kesal
“Oh , aku pake headset. (kebetulan kaca jendela tertutup tirai)
Tari, temanku kesal  “wey sal kasian noh nunggu.” . lalu Tari membuka tirai , dan jelas, Adi senyum , aku malu dan cepat cepat mentutup nya
“Kunaon budak teh?” ( Kenapa anak ini tuh?). Tari heran
“Lalu Dinda masuk. Sal,  katanya Adi bilangin aja, aku masuk da, ga sakit gitu”
“Ih?”. (dalam hati, harus bilang gitu? Eweuh ka era(gatau malu) )
“Sip, ciee gebetan.”. Tari menggoda
“Naon sih” (Apa sih) haha. Jawabku malu

Hari ini aku memutuskan untuk tidak ke kantin lewat kelasnya. Karena tidak tau harus berkata apa, mungkin menurut kalian aku berlebihan, namun ini aku jujur perasaan ku malu, lebih canggung dari pada aku bertemu dengan Tio.

Lalu aku memutuskan untuk jalan ke kantin melalui tangga tengah karena aku tau kelas nya disamping tangga samping dan selalu banyak yang nongkrong disana. Dan kalian tau kenapa? Ia balik dari kantin dan menghentikan langkahku.
“Sal, aku masuk ko.” Ia senyum
“Oh iya, di suruh A Zaid tadi”
“Iya emang agak gak enak badan, tapi ah masuk aja, kamu nya masuk” ia senyum lagi.
“Loh?” wajah bingung
“Engga deng, aku ke atas dulu ya.” Ia senyum. Jujur, Ganteng.
“Oke, aku ke kantin.”
Ia senyum.

Sepulang sekolah.
Alhamdulillah kelas nya kosong, udah pulang semua dan aku bernafas lega.
Aku turun tangga dan benar sudah sepi, aku pulang , dan hari itu aku memutuskan untuk menginap di rumah kakak sepupuku karena akan ada acara di sekolah besok pagi. Dan rumah ku jauh.
Aku berjalan kaki, hingga persimpangan jalan.
“Salsa?” dengan suara langkah kaki sedikit berlari.
Aku membalikkan badan , memastikan siapa yang memanggil. Ia sangat dekat, yap Adi tersenyum lagi. Aku yang minder karena aku pikir aku tidak cantik. Haha sangat merendah, aku sangat tomboy.
“Eh di?” Jawabku lambat.
“Biasa nya naik bis? Kok jalan?”
“Loh, ko tau?”
“Kemarin liat disana. Mau ke rumah A Zaid?”
“Iya, disuruh nginep sama tante, nemenin tante katanya. Kan besok juga ada acara pagi”.
“Oh iya. Yaudah bareng ya, naik angkot kan?”
“Iya”

Adi sangat ramah, ia senyum dan dengan pembawaan yang santai.
Tak ada percakapan. Membisu layak penumpang seperti biasanya. Namun ia akhir nya bersuara
“ aku masuk tau, gak sakit kok”
“iya tau” aku senyum.
“Besok besok kalo gak masuk aku sms deh, mana nomer kamu”
Aku diam, kupikir ia mengeluarkan jurusnya.
“Sal?”
“Masih diam”
“Oh gausah deh, udah ada, kemarin minta ke Zaid, eh nyampe turun yuk”
“kiri mang”

Dan kami pun turun, menyusuri gang yang sama. Yang pada saat itu hanya angin yang memantul pada dinding.  Tidak ada orang berjalan. Hanya kami, suara langkah kami. Dan kami yang diam. Sesekali melempar senyum.
“Adi aku duluan ya, udah nyampe”
“Oke, nanti salam ke Zaid’

Di rumah A Zaid. Setelah beristirahat dan makan , A Zaid baru bangun ia keluar kamar
“Azaaaaaaaaaaaaaaiiiid malu maluin amit-amit ih”
“kunaon ai neng?” (kenapa neng?)
“naon da si Adi masuk, aya tadi nyusul ke kelas, meni era ih” ( Adi tadi masuk, nyamperin ke kelas, malu banget ih)
“haha sorry, berarti salah aa”
“ngahaja nya?” (sengaja ya?)
“haha bae atuh” (biarin atuh).

Malam hari.
Tio sms
“udah makan?, gimana sekolahnya?, bentar lagi ujian akhir,semangat ya, udah ya, aku rindu.”
Singkat, padat.

Malam itu aku memutuskan untuk berhenti belajar,  karena PR ku telah seselai tadi siang dan besok ada acara. Aku bosan, aku ke depan warung tante ku yang memang membuka warung di depan gang. Bermaksud ingin membawa minuman, dan mencari gitar a Zaid yang tidak ada di kamarnya, aku ingin meminjam.
Di warung.
“Neng, malem malem ke luar ih dingin.” A zaid sok perhatian
“Mau minum ih, gitar mana?”
“Gigitaran, gandeng” (main gitar, berisik)
“Sal?”. Wajahnya tak terlihat ia  yang memainkan gitar A Zaid. “nyari ini?”
“Enggak, sok aja, pengen minum aja da”. Aku yang canggung setelah mengetahui yang duduk di posisi gelap itu Adi.
“hmm”. A Zaid bersuara. “Buru masuk dingin”( cepat masuk, dingin).
Aku mengangguk setalah mengambil minuman dingin
“Sal?” . tanya Adi.
“Iya?”
“Besok aja , deh di sekolah”. Ia senyum lagi , jujur dengan sorotan cahaya lampu warung, ia terlihat, ganteng, semakin ganteng.

Aku balik ke kamar Anin adik A Zaid. Dan melihat hp dengan sms dari Tio
“Nilai TO berapa? Aku nurun euy , jelek”
“lumayan lah diatas 7, orangtua senang”
“jelek amat, kalo aku udah di marahin bunda kalo gak 9”
“oh gitu, alhamdulillah ya bagus”
“boro- boroo, kimia aku turun , jadi 7”
“ oh iya, aku ngantuk ya , mau tidur. Bye”
“oke”
Cuma itu, kata-katanya dan membuat mood ku menurun.
Aku melihat jendela, gelak tawa teman – teman A Zaid terdengar, dan wajah Adi terlihat.  Aku mulai mengenalinya meski dalam gelap dan ketika ia berdiri tepat di bawah sinar lampu. Rasa kesal ku karena Tio terobati.
Ya, TO ku memang tidak terlalu bagus di bandingkan Tio yang selalu ingin perfect dimata siapapun.
Aku, yang penting aku mengerti dan paham, juga orangtua ku menerima ku dengan baik apa adanya dan penuh motivasi.

Esoknya.
Seperti biasa aku hanya melempar senyum dan “Hai” saat berpapasan.
Adi yang selalu seperti ingin berbincang, aku hindari.
Sampai di kantin.
“neng, serius amat, UN bentar lagi, aku belum terlalu siap nih”
“ngomong sama salsa?. Ujarku meledek
“sama mangkok, cantik”
Aku diam
“Sama kamu lah haha”
Lebih mendekati salah tingkah menurutku. “belum siap? Nongkrong mulu sih”
“haha hiburan kali, belajar mulu, nanti malah ga bisa becanda dan hidupnya marah marah terus kalo keinginannya ga kesampaian”
Tio banget, dalam hati. Namun yang keluar malah “Setuju”
Kami diam. Hanya angin dan benturan sendok dan mangkok baso yang bersuara.
“ eh bel, duluan ya “ kataku
“ duluan aja , nanti aku di belakang kamu”
“oke”.

Hingga UN tiba kami hanya melempar senyum. Dan hingga kami lulus dan aku memutuskan untuk melanjutkan SMA ke Jakarta, kami tak berhubungan. Begitu pula dengan Tio.
Perpisahan SMP.
“Sal, baik baik di Jakarta” Adi senyum, dan kali ini sangaat tulus
“iya Adi makasih, mau lanjut kemana?”
“Ah disini aja Adi mah, mama kasian kalo adi tinggal jauh”
“oh iya sukses juga ya Adi, baik baik juga”. Aku senyum riang sembari menghabiskan softdrink
“nyantai neng minum nya haha, iya Adi pasti baik kalo Salsa baik baik aja”
“haus bang haha.... hmmm.......i’ll fine, promise”
“harus dong, sampai jumpa di liburan semester”
“iya kalo ada ongkos Salsa kesini hahha”
“apa perlu abang jemput ?” Goda Adi
Diam
“engga lah neng, jangan mikirin rumah selama sekolah, fokus. Ada waktunya kau kembali”
“jika tidak?”
“ya Allah memberi mu takdir yang lebih baik dari seorang Adi”
“Begitu juga dikau”
Ia senyum. Menepuk bahuku dan membalikan badan ku ke arah panggung.
Aku berbalik badan dan melanjutkan acara. Ia masih di tempat yang sama , dengan senyum yang sama. Di sampingku, meski aku tak yakin ini akan menyita waktu ku lama, namun aku nyaman.
“Sal, aku duluan ya , Rama manggil”
“okee , bye”
“i’ll miss you, hmmm no,  i miss you already.” Bisiknya
daku membalas senyum.
Acara selesai, aku pulang dan Adi masih melempar senyum yang sama di tambah lambaian tangan. Tidak berkata , namun matanya seraya berkata “hati-hati”
Itu menjadi akhir ku bertemu Adi. Setelah ku dengar kabar ia memiliki kekasih, begitu pula daku, bukan dengan Tio namun orang lain. Sang pemilik senyum yang tulus.
Yang ku ingat , senyum tulus dari Adi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar