Teduh
Saat itu, saat
sekolah menengah pertama aku mengenal laki-laki dari surat yang bisa di bilang
salah alamat. Tio namanya, ia beda sekolah namun kami dekat. Kata orang sih
bukan cuma teman pada zamannya.
Tio. Tapi
aku tak merasa begitu dekat, karena Jarak Rumah kita lumayan jauh, sekolah juga,
kita bertemu dalam acara, dan akan di pertemukan dalam acara pula. Ia realistis,
pintar dan melakukan sesuatu yang hanya ia sukai.
Aku. Lebih
suka bercanda, ngobrol meski hal- hal yang ringan namun jika itu menyenangkan
membuat ku nyaman. Aku kurang begitu suka nerima telpon, kecuali dari orangtua.
Kurang suka berlama – lama di telpon, pribadi ku yang tidak mau diam gak rela
kalo harus tersita hanya mengobrol di handphone.
Aku lebih
suka bermain, pribadiku santai, tidak terlalu menyesali yang telah terjadi,
tidak juga terlalu memikirkan yang akan terjadi, bawaanku tenang namun
terkendali dan teratur, tidak bebas meski sering melakukan hal-hal nakal jika
menyenangkan dan tidak melanggar , nakal itu perlu menurutku, bukan nakal namun
melakukan hal yang orang lain enggan namun berkesan dan terkadang konyol. Aku
suka
Tio, bawaan
nya selalu serius, aku bercanda ia marah. Ia terkadang kurang mau menerima
keadaan atau hasil yang kurang baik. Namun ia bertanggung jawab dalam pekerjaan,
dan selalu menepati janji. Sangat sering ia membandingkan, Tidak peduli
perasaan lawan bicara nya. Meski begitu, aku tidak mengelak pernah menyukai
nya, ntah dari akademik ataupun ketika ia olahraga.
Semua pasti
merasakan, ada rasa karena ada dan selalu ada, bisa karena satu lokasi atau
selalu ada menghubungi, ia bisa mengalahkan yang istimewa sekalipun.
Saat itu aku
dikenalkan oleh kakak sepupuku kepada tetangga nya yang satu sekolah dan satu
angkatan dengaan ku ia kelas A dan aku kelas C. Ia dia tampan menurutku. Adi
namanya, ia putih, baik hati, selalu tersenyum, dan agak konyol.
Ada satu hal
yang membuat aku malu saat itu, kakak sepupu ku mengirim sms padaku bahwa Adi
tidak akan sekolah, ia berbicara di rumahnya saat malam Adi main ke rumahnya.
“De, bilang
aja ke guru nya, dia sakit.” A Zaid
“Beneran?.
Tanyaku penasaran, aku yang datang kebetulan kepagian memberi tahu teman sekelasnya
bahwa Adi sakit.
Saat
istirahat.
“Sal, di
panggil Adi” teriak Dinda
Aku kaget
bercampur malu. “ia nanti tanggung.”
“Noh dia nya
di kaca sebelah kamu , udah ngetok ngetok ga denger?”. Dinda mulai kesal
“Oh , aku
pake headset. (kebetulan kaca jendela tertutup tirai)
Tari,
temanku kesal “wey sal kasian noh
nunggu.” . lalu Tari membuka tirai , dan jelas, Adi senyum , aku malu dan cepat
cepat mentutup nya
“Kunaon
budak teh?” ( Kenapa anak ini tuh?). Tari heran
“Lalu Dinda
masuk. Sal, katanya Adi bilangin aja,
aku masuk da, ga sakit gitu”
“Ih?”.
(dalam hati, harus bilang gitu? Eweuh ka era(gatau malu) )
“Sip, ciee
gebetan.”. Tari menggoda
“Naon sih” (Apa
sih) haha. Jawabku malu
Hari ini aku
memutuskan untuk tidak ke kantin lewat kelasnya. Karena tidak tau harus berkata
apa, mungkin menurut kalian aku berlebihan, namun ini aku jujur perasaan ku
malu, lebih canggung dari pada aku bertemu dengan Tio.
Lalu aku
memutuskan untuk jalan ke kantin melalui tangga tengah karena aku tau kelas nya
disamping tangga samping dan selalu banyak yang nongkrong disana. Dan kalian
tau kenapa? Ia balik dari kantin dan menghentikan langkahku.
“Sal, aku masuk
ko.” Ia senyum
“Oh iya, di
suruh A Zaid tadi”
“Iya emang
agak gak enak badan, tapi ah masuk aja, kamu nya masuk” ia senyum lagi.
“Loh?” wajah
bingung
“Engga deng,
aku ke atas dulu ya.” Ia senyum. Jujur, Ganteng.
“Oke, aku ke
kantin.”
Ia senyum.
Sepulang
sekolah.
Alhamdulillah
kelas nya kosong, udah pulang semua dan aku bernafas lega.
Aku turun
tangga dan benar sudah sepi, aku pulang , dan hari itu aku memutuskan untuk
menginap di rumah kakak sepupuku karena akan ada acara di sekolah besok pagi. Dan
rumah ku jauh.
Aku berjalan
kaki, hingga persimpangan jalan.
“Salsa?”
dengan suara langkah kaki sedikit berlari.
Aku
membalikkan badan , memastikan siapa yang memanggil. Ia sangat dekat, yap Adi
tersenyum lagi. Aku yang minder karena aku pikir aku tidak cantik. Haha sangat
merendah, aku sangat tomboy.
“Eh di?”
Jawabku lambat.
“Biasa nya
naik bis? Kok jalan?”
“Loh, ko
tau?”
“Kemarin
liat disana. Mau ke rumah A Zaid?”
“Iya,
disuruh nginep sama tante, nemenin tante katanya. Kan besok juga ada acara pagi”.
“Oh iya.
Yaudah bareng ya, naik angkot kan?”
“Iya”
Adi sangat
ramah, ia senyum dan dengan pembawaan yang santai.
Tak ada
percakapan. Membisu layak penumpang seperti biasanya. Namun ia akhir nya
bersuara
“ aku masuk
tau, gak sakit kok”
“iya tau”
aku senyum.
“Besok besok
kalo gak masuk aku sms deh, mana nomer kamu”
Aku diam,
kupikir ia mengeluarkan jurusnya.
“Sal?”
“Masih diam”
“Oh gausah
deh, udah ada, kemarin minta ke Zaid, eh nyampe turun yuk”
“kiri mang”
Dan kami pun
turun, menyusuri gang yang sama. Yang pada saat itu hanya angin yang memantul
pada dinding. Tidak ada orang berjalan.
Hanya kami, suara langkah kami. Dan kami yang diam. Sesekali melempar senyum.
“Adi aku duluan
ya, udah nyampe”
“Oke, nanti
salam ke Zaid’
Di rumah A
Zaid. Setelah beristirahat dan makan , A Zaid baru bangun ia keluar kamar
“Azaaaaaaaaaaaaaaiiiid
malu maluin amit-amit ih”
“kunaon ai
neng?” (kenapa neng?)
“naon da si
Adi masuk, aya tadi nyusul ke kelas, meni era ih” ( Adi tadi masuk, nyamperin
ke kelas, malu banget ih)
“haha sorry,
berarti salah aa”
“ngahaja
nya?” (sengaja ya?)
“haha bae
atuh” (biarin atuh).
Malam hari.
Tio sms
“udah
makan?, gimana sekolahnya?, bentar lagi ujian akhir,semangat ya, udah ya, aku
rindu.”
Singkat,
padat.
Malam itu
aku memutuskan untuk berhenti belajar, karena PR ku telah seselai tadi siang dan
besok ada acara. Aku bosan, aku ke depan warung tante ku yang memang membuka
warung di depan gang. Bermaksud ingin membawa minuman, dan mencari gitar a Zaid
yang tidak ada di kamarnya, aku ingin meminjam.
Di warung.
“Neng, malem
malem ke luar ih dingin.” A zaid sok perhatian
“Mau minum
ih, gitar mana?”
“Gigitaran,
gandeng” (main gitar, berisik)
“Sal?”.
Wajahnya tak terlihat ia yang memainkan
gitar A Zaid. “nyari ini?”
“Enggak, sok
aja, pengen minum aja da”. Aku yang canggung setelah mengetahui yang duduk di
posisi gelap itu Adi.
“hmm”. A
Zaid bersuara. “Buru masuk dingin”( cepat masuk, dingin).
Aku
mengangguk setalah mengambil minuman dingin
“Sal?” .
tanya Adi.
“Iya?”
“Besok aja ,
deh di sekolah”. Ia senyum lagi , jujur dengan sorotan cahaya lampu warung, ia
terlihat, ganteng, semakin ganteng.
Aku balik ke
kamar Anin adik A Zaid. Dan melihat hp dengan sms dari Tio
“Nilai TO
berapa? Aku nurun euy , jelek”
“lumayan lah
diatas 7, orangtua senang”
“jelek amat,
kalo aku udah di marahin bunda kalo gak 9”
“oh gitu,
alhamdulillah ya bagus”
“boro- boroo,
kimia aku turun , jadi 7”
“ oh iya,
aku ngantuk ya , mau tidur. Bye”
“oke”
Cuma itu, kata-katanya
dan membuat mood ku menurun.
Aku melihat
jendela, gelak tawa teman – teman A Zaid terdengar, dan wajah Adi terlihat. Aku mulai mengenalinya meski dalam gelap dan
ketika ia berdiri tepat di bawah sinar lampu. Rasa kesal ku karena Tio terobati.
Ya, TO ku
memang tidak terlalu bagus di bandingkan Tio yang selalu ingin perfect dimata
siapapun.
Aku, yang
penting aku mengerti dan paham, juga orangtua ku menerima ku dengan baik apa
adanya dan penuh motivasi.
Esoknya.
Seperti
biasa aku hanya melempar senyum dan “Hai” saat berpapasan.
Adi yang
selalu seperti ingin berbincang, aku hindari.
Sampai di
kantin.
“neng,
serius amat, UN bentar lagi, aku belum terlalu siap nih”
“ngomong
sama salsa?. Ujarku meledek
“sama
mangkok, cantik”
Aku diam
“Sama kamu
lah haha”
Lebih
mendekati salah tingkah menurutku. “belum siap? Nongkrong mulu sih”
“haha
hiburan kali, belajar mulu, nanti malah ga bisa becanda dan hidupnya marah
marah terus kalo keinginannya ga kesampaian”
Tio banget,
dalam hati. Namun yang keluar malah “Setuju”
Kami diam.
Hanya angin dan benturan sendok dan mangkok baso yang bersuara.
“ eh bel,
duluan ya “ kataku
“ duluan aja
, nanti aku di belakang kamu”
“oke”.
Hingga UN
tiba kami hanya melempar senyum. Dan hingga kami lulus dan aku memutuskan untuk
melanjutkan SMA ke Jakarta, kami tak berhubungan. Begitu pula dengan Tio.
Perpisahan
SMP.
“Sal, baik
baik di Jakarta” Adi senyum, dan kali ini sangaat tulus
“iya Adi
makasih, mau lanjut kemana?”
“Ah disini
aja Adi mah, mama kasian kalo adi tinggal jauh”
“oh iya
sukses juga ya Adi, baik baik juga”. Aku senyum riang sembari menghabiskan
softdrink
“nyantai
neng minum nya haha, iya Adi pasti baik kalo Salsa baik baik aja”
“haus bang
haha.... hmmm.......i’ll fine, promise”
“harus dong,
sampai jumpa di liburan semester”
“iya kalo
ada ongkos Salsa kesini hahha”
“apa perlu
abang jemput ?” Goda Adi
Diam
“engga lah
neng, jangan mikirin rumah selama sekolah, fokus. Ada waktunya kau kembali”
“jika
tidak?”
“ya Allah
memberi mu takdir yang lebih baik dari seorang Adi”
“Begitu juga
dikau”
Ia senyum.
Menepuk bahuku dan membalikan badan ku ke arah panggung.
Aku berbalik
badan dan melanjutkan acara. Ia masih di tempat yang sama , dengan senyum yang
sama. Di sampingku, meski aku tak yakin ini akan menyita waktu ku lama, namun
aku nyaman.
“Sal, aku
duluan ya , Rama manggil”
“okee , bye”
“i’ll miss
you, hmmm no, i miss you already.”
Bisiknya
daku
membalas senyum.
Acara
selesai, aku pulang dan Adi masih melempar senyum yang sama di tambah lambaian
tangan. Tidak berkata , namun matanya seraya berkata “hati-hati”
Itu menjadi
akhir ku bertemu Adi. Setelah ku dengar kabar ia memiliki kekasih, begitu pula
daku, bukan dengan Tio namun orang lain. Sang pemilik senyum yang tulus.
Yang ku
ingat , senyum tulus dari Adi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar